Kamis, 26 Desember 2013

madrasah diniyah



I.   PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan  kunci sekaligus pembuka bagi perkembangan suatu bangsa, Pendidikan yang maju dan kuat akan mempercepat terjadinya perubahan sosial. Namu sebaliknya pendidikan suatu bangsa mengalami kemunduran maka sudah pastikan akan kontra produktif terhadap jalanya proses perubahan sosial suatu bangsa dan justru akan menimbulkan ketidak harmonisan tatanan sosial.Dampak globalisasi sebagai akibat dari kemajuan teknologi yang mau tak mau telah memberi pengaruh dan merubah peradaban dunia. Demikian pula keterbukaan terhadap harus informasi yang menyangkut perkembangan ilmu pengetahuan telah memberi dampak terhadap lingkungan, begitu mudahnya terakses dan dikonsumsi oleh masyarakat kita. Kecenderungan seperti itu harus diantisipasi oleh dunia pendidikan terutama madrasah diniyah. Jika ingin menempatkan pendidikan pada visi sebagai agen pembangunan dan perkembangan yang tidak ketinggalan zaman.
Lembaga pendidikan Islam seperti madrasah yang mempunyai, konsep modern namun tidak melupakan nilai-nilai agama. Pelaksanaan pendidikan agama Islam di madrasah banyak bermuara pada aspek metodologi pembelajaran pendidikan Agama Islam yang orientasinya lebih bersifat normatif, teoritis dan kognitif.[1] Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam sangat penting dan menarik, khususnya
Bagi praktisi pendidikan atau pemimpin umat. Dengan membicarakan pendidikan madrasah, dapat diketahui fungsi, peranan dan dakwah islamiyah dalam mewujudkan masyarakat  madani di Indonesia.[2]
Pendidikan Islam formal di Indonesia secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu sistem pendidikan madrasah dan sistem pendidikan pesantren. Sedangkan sistem madrasah terdiri dari 3 macam yaitu: (1) madrasah diniyah.(2) Madrasah meliputi madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah (3) Al-jami’ah atau Perguruan Tinggi Islam.[3]
Madrasah adalah tempat pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran yang berada dibawa naungan Departemen Agama Yang termasuk dalam kategori madrasah ini adalah lembaga pendidikan: Ibtidaiyah,Tsanawiyahdan Aliyah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka permasalahan “Potensi Madrasah Diniyah di Era Modern” dapat dirumuskan, sebagai berikut:
1.    Bagaimana pengertian dan sejarah madrasah Diniyah?
2.    Bagaimana ciri-ciri Madrasah Diniyah?
3.    Bagaimana Madrasah Diniyah di Era Modern?



[1]Muh. Sain Hanafy, Pengelolaan Program Pendidikan Agama Islam Terpadu pada Sistem Madrasah & Implikasinya Terhadap Peserta Didik (Cet. I; Makassar: Alauddin University Press, 2011), h. 137.
[2]Samsul Nizar dan Muhammad Syaifudin, Isu-isu Kontemporer tentang Pendidikan Islam (Cet. I; Jakarta: Kalam Mulia, 2010), h. 5.
[3]Hasan Basri dan Beni Ahmad Sebani, Ilmu Pendidikan Islam Jilid II (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2010), h.182.

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Lihat juga blog ini



A. Pendahuluan
Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya.
1  (1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut menunjukkan arti sebagai informal.
2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini adalah arti yang formal.
3)  Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.
4)  Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.
5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsumg yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
Dari beberapa definisi tadi bahwasanya semua jawaban yang ada di filsafat tadi hanyalah buah pemikiran dari ahli filsafat saja secara rasio. Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu, dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini ? Apakah alam itu bersahabat atau bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam benda .
Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme.
Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya.
B. Pengertian Filsafat pendidikan Islam
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.
Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.
Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya.
Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis. Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan.Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si - terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu 1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar. 2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong. 3) Ada yang di didik atau si terdidik. 4) Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah. Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran.
Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup ( long life education ). Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.

kehidupan dunia



A.       Sains Dan Agama Menurut Pandangan Filsafat Ilmu
1.    Pengertian Sains
            Sains (Ilmu Pengetahuan) dalam bahasa inggris dan prancis di sebut “Science”, sedangkan dalam bahasa jerman disebut “Wissenschaft”, dan dalam bahasa belanda di sebut “Wetenschap”.[1]
            Science berasal dari kata “scio”, “Scire” (bahasa latin) yang berarti tahu, begitupun ilmu berasal dari kata ‘alima” (bahasa arab) yang juga berarti tahu. Jadi baik imu atau Science secara etimologis berarti pengetahuan. Namun secara terminologis, ilmu dan science itu semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat yang khas.[2] Adapun menurut pandangan para ilmuan terkemuka tentang pengertian sains ini, dapat kami paparkan sebagai berikut :
a.    Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag :
Science is empirical, rational, general, general ang cumulative; and it is  all four of onece”[3]

            (Ilmu ialah yang empiris, yang rasional, yang umum dan bertimbun bersusun; dan keempat-empatnya serentak)


b.    Karl Pearson (1857-1936), pengarang karya terkenal Grammar of Science :
“Science is the complete and consistent description of the fact of experience in the simplest possible terms”[4]

(Ilmu pengetahuan ialah lukisan atauketerangan yang lengkap dan konsistententang fakta pengalaman dengan istilah yang sesederhana/ sesedikit mungkin)
c.    Prof. Dr. A. Baiquni (guru besar pada Universitas Gajah Mada) :
Science merupakan generasi consensus dari masyarakat yang terdiri dari para scientist”[5]
Dari penjelasan diatas kita dapat merumuskan bahwa ilmu pengetahuan (science) adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda dan syarat tertentu, yaitu : sistematik, rasional, empiris, umum dan kumulatif (bersusun timbun). jadi ilmu pengetahuan itu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsistent mengenai hal-hal yang di studinya dalam ruang dan waktus sejauh jangkauan pemikiran dan penginderaan manusia. Atau bisa pula dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia yang di susun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal yang di selidiki (alam, manusia dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu oleh penginderaan manusia, yang kebenarannya di uji secara empiris, riset dan eksperimental.
Demikianlah yang dapat penulis rumuskan tentang sains menurut pandangan filsafat ilmu.
2.    Pengertian Agama
Agama Islam (indonesia), Religion (inggris), Religie (belanda) dan Ad-Din (Arab)[6]. Menurut pandangan etimologi : dalam kamus Al-Munjid dapat kita temukan keterangan tentang arti Ad-Din sebagai berikut : Ad-Din bentuk mufrad dari kata Adyan yang berarti Al-Jaza’ wa Al-Mukafaah, Al-Qadha, Al-Malik wa AL-Muluk sa Al-Sulthan, Al-Thabir, Al-Hisab.[7], dalam bahasa indonesia di terjemahkan menjadi, pahala, ketentuan, kekuasaan, pengelolaan, perhitungan.
Adapun agama menurut arti Terminologinya : sebenarnya tidak ada satu definisi tentang agama yang dapat diterima secara umum. Para filosof, para sosiolog, para psikolog, dan para teolog dan lain-lainnya telah merumuskan definis tentang Religion menurut caranya masing-masing. Namun dapat penulis simpulkan Sebagaimana para ilmuan tersebut beranggapan bahwa Reigion sebagai “penerimaan atas tata aturan dari pada kekuata-kekuatan yang lebih tinggi dari pada manusia itu sendiri”[8]
Ad-Din : menurut Al-Jurjani, beliaun menerangkan persamaan dan perbedaan antara Ad-Din pada satu pihak, dengan Al-Millah dan Al-Madzhab pada lain pihak, menurut beliau ketiga-tiganya bersamaan dalam materinya dan perbedaan terletak pada kesannya, Ad-Din dinisbahkan pada Allah, Al-Millah di nisbahkan kepada Nabi tertentu dan Al-Madzhab dinisbahkan kepada mujtahid tertentu.[9]
Melihat persfektif para ilmuan akan pemahaman mereka tentang agama/religion, penulis hanya mampu mengatakan bahwa defini agama/religion  ini tidak ditemukan secara umum atau global yang mampu merangkum pandangan para ilmuan karena mereka memberi definisi sesuai cara mereka masing-masing. Bahkan didalam Al-Qur’an sendiri kata Ad-Din tidak terbatas penggunaannya hanya kepada islam saja tapi semua agama dalam Al-Qur’an di gunakan dalam bahasa Ad-Din.[10]
Namun walaupun hal ini terjadi seperti demikina penulis hanya ingin memberikan klasifikasi agama, agar tidak membuat kita menjadi plin-plang dalam memahami agama itu sendiri, adapun klasifikasi agama :
a.    Revealed and non Revealed Religions
Revealed Religions (agama wahyu) ialah agama yang menghendaki iman kepada Tuhan, Rasul dan Kitab-kitabnya serta pesannya untuk di sebrkan kepada seluruh ummat manusia. Yang termasuk dalam hal ini menurut Al-Qur’an adalah Yudaisme, Kristen dan Islam.
Non Revealed Religions (agama tanpa wahyu) ialah agama yang tidak memandang esensial penyerahan manusia kepada tata aturan Ilahi.


[1]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina Ilmu;1987), h.47
[2]Ibid.
[3]Ralp Ross and Ernest Van Den Haag, The fabric of society, (New York: 1957), h.195
[4]George Thomas White Patrick, Introduction to Philosophy, (London: 1958), h.20.
[5]Djuma’in Basalim, Orientalis Terhadap Sciene, (Harian Abadi, 17 maret 1969, 20 Maret 1969.
[6]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina Ilmu;1987), h.199
[7]Louis Ma’luf, Al-Munjid fi Al-Lughah, (Beirut: Al-Matba’ah Al-Katsulikiyah ), h.231
[8]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina Ilmu;1987), h.119-120
[9] Al-Jurjani, At-Ta’rifat, (     ), h.94-95
[10]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina Ilmu;1987), h.121