A.
Sains Dan Agama
Menurut Pandangan Filsafat Ilmu
1. Pengertian Sains
Sains (Ilmu Pengetahuan) dalam
bahasa inggris dan prancis di sebut “Science”, sedangkan dalam bahasa
jerman disebut “Wissenschaft”, dan dalam bahasa belanda di sebut “Wetenschap”.[1]
Science berasal dari kata “scio”,
“Scire” (bahasa latin) yang berarti tahu, begitupun ilmu berasal dari kata ‘alima”
(bahasa arab) yang juga berarti tahu. Jadi baik imu atau Science secara
etimologis berarti pengetahuan. Namun secara terminologis, ilmu dan science
itu semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan
syarat-syarat yang khas.[2]
Adapun menurut pandangan para ilmuan terkemuka tentang pengertian sains ini,
dapat kami paparkan sebagai berikut :
a.
Ralph Ross dan Ernest Van Den
Haag :
(Ilmu
ialah yang empiris, yang rasional, yang umum dan bertimbun bersusun; dan
keempat-empatnya serentak)
b. Karl Pearson
(1857-1936), pengarang karya terkenal Grammar of Science :
“Science is the complete and
consistent description of the fact of experience in the simplest possible
terms”[4]
(Ilmu pengetahuan ialah lukisan atauketerangan yang
lengkap dan konsistententang fakta pengalaman dengan istilah yang sesederhana/
sesedikit mungkin)
c. Prof. Dr. A. Baiquni
(guru besar pada Universitas Gajah Mada) :
“Science merupakan
generasi consensus dari masyarakat yang terdiri dari para scientist”[5]
Dari penjelasan diatas kita dapat merumuskan bahwa
ilmu pengetahuan (science) adalah semacam pengetahuan yang mempunyai
ciri, tanda dan syarat tertentu, yaitu : sistematik, rasional, empiris, umum
dan kumulatif (bersusun timbun). jadi ilmu pengetahuan itu merupakan lukisan
dan keterangan yang lengkap dan konsistent mengenai hal-hal yang di studinya
dalam ruang dan waktus sejauh jangkauan pemikiran dan penginderaan manusia.
Atau bisa pula dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia
yang di susun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian,
bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal yang di selidiki (alam, manusia
dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu oleh
penginderaan manusia, yang kebenarannya di uji secara empiris, riset dan
eksperimental.
Demikianlah yang dapat penulis rumuskan tentang
sains menurut pandangan filsafat ilmu.
2.
Pengertian Agama
Agama Islam (indonesia),
Religion (inggris), Religie (belanda) dan Ad-Din (Arab)[6].
Menurut pandangan etimologi : dalam kamus Al-Munjid dapat kita
temukan keterangan tentang arti Ad-Din sebagai berikut : Ad-Din bentuk
mufrad dari kata Adyan yang berarti Al-Jaza’ wa Al-Mukafaah,
Al-Qadha, Al-Malik wa AL-Muluk sa Al-Sulthan, Al-Thabir, Al-Hisab.[7],
dalam bahasa indonesia di terjemahkan menjadi, pahala, ketentuan,
kekuasaan, pengelolaan, perhitungan.
Adapun agama menurut arti Terminologinya : sebenarnya
tidak ada satu definisi tentang agama
yang dapat diterima secara umum. Para filosof, para sosiolog, para psikolog,
dan para teolog dan lain-lainnya telah merumuskan definis tentang Religion menurut
caranya masing-masing. Namun dapat penulis simpulkan Sebagaimana para ilmuan
tersebut beranggapan bahwa Reigion sebagai “penerimaan atas tata aturan
dari pada kekuata-kekuatan yang lebih tinggi dari pada manusia itu sendiri”[8]
Ad-Din : menurut Al-Jurjani, beliaun
menerangkan persamaan dan perbedaan antara Ad-Din pada satu pihak,
dengan Al-Millah dan Al-Madzhab pada lain pihak, menurut beliau
ketiga-tiganya bersamaan dalam materinya dan perbedaan terletak pada kesannya, Ad-Din
dinisbahkan pada Allah, Al-Millah di nisbahkan kepada Nabi tertentu
dan Al-Madzhab dinisbahkan kepada mujtahid tertentu.[9]
Melihat persfektif para ilmuan akan pemahaman
mereka tentang agama/religion, penulis hanya mampu mengatakan bahwa
defini agama/religion ini tidak
ditemukan secara umum atau global yang mampu merangkum pandangan para ilmuan
karena mereka memberi definisi sesuai cara mereka masing-masing. Bahkan didalam
Al-Qur’an sendiri kata Ad-Din tidak terbatas penggunaannya hanya kepada
islam saja tapi semua agama dalam Al-Qur’an di gunakan dalam bahasa Ad-Din.[10]
Namun walaupun hal ini terjadi seperti demikina
penulis hanya ingin memberikan klasifikasi agama, agar tidak membuat kita
menjadi plin-plang dalam memahami agama itu sendiri, adapun klasifikasi agama :
a.
Revealed and non Revealed
Religions
Revealed Religions (agama wahyu) ialah
agama yang menghendaki iman kepada Tuhan, Rasul dan Kitab-kitabnya serta
pesannya untuk di sebrkan kepada seluruh ummat manusia. Yang termasuk dalam hal
ini menurut Al-Qur’an adalah Yudaisme, Kristen dan Islam.
Non
Revealed Religions (agama tanpa wahyu) ialah agama yang tidak
memandang esensial penyerahan manusia kepada tata aturan Ilahi.
[1]Endang Saifuddin
Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina
Ilmu;1987), h.47
[2]Ibid.
[3]Ralp Ross and Ernest
Van Den Haag, The fabric of society, (New York: 1957), h.195
[4]George Thomas White
Patrick, Introduction to Philosophy, (London: 1958), h.20.
[5]Djuma’in Basalim, Orientalis
Terhadap Sciene, (Harian Abadi, 17 maret 1969, 20 Maret 1969.
[6]Endang Saifuddin
Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina
Ilmu;1987), h.199
[7]Louis Ma’luf, Al-Munjid
fi Al-Lughah, (Beirut: Al-Matba’ah Al-Katsulikiyah ), h.231
[8]Endang Saifuddin
Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina
Ilmu;1987), h.119-120
[9] Al-Jurjani, At-Ta’rifat,
( ), h.94-95
[10]Endang Saifuddin
Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina
Ilmu;1987), h.121
Tidak ada komentar:
Posting Komentar